SAMBIL berdiri, seorang murid memegang kepala gurunya yang sedang duduk bersimpuh. Saat sang guru mendongakkan kepalanya, tiba-tiba sang murid menjerit menahan sakit. Pegangan pun terlepas. Lalu, sang murid mundur.
Sekali lagi, saat maju menyerang belum sampai menyentuh sang guru, si murid kesakitan dan mengerang. Sang guru saat itu masih dalam posisi duduk bersimpuh, tanpa gerakan sedikit pun, hanya menggoyangkan kepalanya saja.
Berkali-kali, tanpa menyentuh, hanya dengan menggerakkan kepalanya, sang guru membuat si murid kesakitan. “Ini bukan tenaga dalam atau sesuatu yang gaib. Ini hanya efek dari konsentrasi dan koneksi antara yang diserang dan penyerang. Rasa atau feeling kita harus dilatih dan dikembangkan,” kata Sensei Imanul Hakim.
Tanpa Bentuk
Cerita sederhana ini merupakan gambaran dari sebuah ilmu bela diri Jepang yang dikenal begitu spiritual, yaitu aikido. Didirikan oleh O-Sensei (Guru Besar) Morihei Ueshiba, awalnya bentuk lama yang disebut Daito-ryu Aiki-Jutsu memang digunakan untuk bertarung (combat).
Karena itu, bentuk lama ini tampak begitu agresif dan keras karena memang dimanfaatkan untuk keperluan menaklukkan musuh. Namun, dalam perkembangannya, sejalan dengan meningkatnya kehidupan spiritualitas, O-Sensei menciptakan gerakan aikido yang sifatnya lebih lembut dan tidak mengandung unsur kekerasan.
Sifat inilah yang menandakan bahwa aikido bukanlah ilmu bela diri biasa. Aikido terdiri dari tiga kata. Ai artinya keselarasan (harmoni) atau kasih sayang, ki berarti jiwa/semangat, sedangkan do adalah cara/jalan.
Jadi, aikido adalah suatu cara atau jalan untuk mencapai keselarasan antara gerakan tubuh dengan jiwa. “Dalam tingkatan lebih tinggi, aikido merupakan upaya kita untuk mecapai keselarasan dengan alam, energi universal,” tutur pemegang Dan 4 ini.
Meski ada banyak gerakan yang ditunjukkan saat berlatih, entah itu kuncian atau melempar, pada dasarnya gerakan aikido ini tidak bersifat mencelakai. “Setiap gerakan sifatnya menunggu reaksi dari lawan,” ujar Hakim.
Karena itu, aikidoka harus peka, sensitif. Lewat latihan terus-menerus, rasa perasaan, insting, terhadap segala sesuatu akan berkembang. Jadi, mengolah rasa menjadi hal penting dalam hal ini.
Saat diserang lawan pun, aikidoka (sebutan bagi orang yang berlatih aikido) hanya akan melakukan gerakan memutar atau berbentuk spiral. “Gerakan memutar ini seperti tarian Sufi,” tutur Hakim, yang pernah mendalami langsung aikido dari para Sensei di Jepang.
Kesadaran Paling Utama
Karena tidak diajarkan untuk menyerang, menurut Sensei Hakim, seorang aikidoka mesti mengembangkan satu hal yang disebut kesadaran atau consciousness. Seluruh tubuh, jiwa, dan pikiran harus berada dalam keadaan menyatu. “Kesadaran bahwa kita hidup pada saat ini dan di sini menjadi utama dengan begitu, para aikidoka selalu bisa waspada dan siaga,” katanya.
Sikap siaga ini lebih dari sekadar waspada, melainkan merupakan di posisi eling (Jawa = kesadaran penuh). Hidup kita tidak terjerat oleh kenangan masa lalu juga kekhawatiran akan masa depan. Semangat untuk surrender, pasrah kepada Penyelenggara Hidup, menjadi kekuatan.
Tanpa adanya kemampuan ini, aikidoka tidak akan mampu mengalahkan lawan tanpa gerakan mematikan atau menyakiti. Tanpa adanya keharmonisan jiwa, tubuh, dan pikiran, aikidoka hanya akan belajar bela diri tak ubahnya seperti judo, karate, atau yang lainnya. Keinginan untuk menyerang dan mengalahkan hingga lawan tidak berkutik akan muncul dan menjadi hal penting.
Dalam aikido, mengalahkan lawan bukanlah tujuan. Jiwa dan hati murni yang dipenuhi dengan cinta kasih menjadi dasar dan tujuan dari semua latihan ini. “Memang, tidak banyak aikidoka yang sampai pada pemahaman dan penghayatan seperti ini,” ungkap Hakim.
Tidak heran, ada banyak versi aikido yang bisa dipelajari yang lebih menekankan soal bela dirinya. “Tidak mudah untuk sampai pada tahap ini. Seseorang harus melepaskan egonya, keinginannya untuk menang, juga menguasai orang lain atau lawan,” tambahnya. Menarik ‘kan belajar aikido?
http://202.146.4.17/read/xml/2008/04/30/20344540/aikido.olah.rasa.kembangkan.cinta





wah artikelnya bagus sekali
dah lama pengen belajar aikido tapi blom sempet
saya tertarik dengan aikido karena mindsetnya
sesuatu yang ketika pertama kali saya dengar agak sedikit aneh, munkin karena dahulu saya belajar karate
tapi terus terang saya merasakan ada sesuatu yg kurang di karate, hem.. mungkin piece of mind
btw salam kenal ya
wah, gw sebagai karateka ga setuju kalo karate itu bertujuan mengalahkan lawan hingga lawan tidak berkutik.
sebenarnya, karateka (seharusnya) juga memegang prinsip yang namanya jiwa bushido (kalo diartikan ke dalam bhs indonesia kurang lebih jiwa ksatria).
inti bushido adalah kerendahan hati. karateka dilarang keras memamerkan kekuatannya dan dilarang keras menggunakan kekuatannya jika tidak terdesak. karateka hanya boleh mengeluarkan jurusnya jika ia dalam posisi terancam. dan gerakan2 karate kebanyakan bukan untuk mematikan. kalo lagi kumite (tarung 1-1) aja kalo lawan udah kena ga boleh dihajar lagi.
memang, perbedaan dengan aikido adalah cara membela dirinya. karate melawan kekerasan dengan mencegah kekerasan sampai ke diri kita, sehingga dilawan dengan kekerasan juga.
sayang sekali buat anda karateka yg belum memahami hal ini… (no offense)