YMC : Chandi Conrad, Konselor Anak Yang Masih Anak
August 5, 2003
[femaleradio.com-1/8] Badannya tinggi besar, wajahnya bisa dibilang agak boros. Setiap kali diajak bicara mengenai anak-anak, nada suaranya selalu antusias. Pengetahuan tentang anak-anak layaknya seperti seorang bapak yang telah memiliki dua anak. Tapi siapa sangka jika laki-laki ini, usianya baru 18 tahun !
Chandi Salmon Conrad, sosok remaja ini sungguh berbeda dengan stereotipe remaja masa kini yang lebih senang menghabiskan waktu di mall, disco atau tawuran. Sejak duduk di bangku kelas 2 SMP Al Azhar Pusat, Chandi telah aktif dalam kegiatan penyuluhan kesehatan reproduksi bagi anak-anak, meski usianya masih tergolong dalam kategori anak-anak itu sendiri. “Menurut ketentuan dari UNICEF, yang dikategorikan anak-anak itu adalah bayi yang sejak berada di dalam kandungan sampai dengan usia 18 tahun,” ujar Chandi.
Kepada teman sebayanya, Chandi memberikan informasi yang benar seputar kesehatan reproduksi yang seharusnya diketahui remaja. “Pernah ada temen saya yang bertanya kepada saya, dia sudah sebulan tidak haid, padahal seharusnya dia sudah cek ke dokter dong. Misalnya siklus haidnya 28 atau 32 hari ussually, kalau lewat dari seminggu aja, itu ‘kan berarti udah ada yang engga beres,” ujar pemuda yang memiliki tinggi badan 185 cm dan berat 120 kg ini.
Ihwal keterlibatan Chandi dalam kegiatan ini, berawal dari diskusi pelajar yang diadakan sekolahnya. Ketika itu, Chandi tertarik informasi kesehatan reproduksi remaja dalam salah satu stand yang diisi oleh Sentra Mitra Muda. Dari ketertarikan itu, Chandi pun bergabung dengan Sentra Mitra Muda untuk menjadi pre-educator atau konselor sebaya.
Untuk menjadi konselor sebaya tersebut, Chandi banyak membaca buku modul, memperluas wawasannya seputar kesehatan reproduksi dan mengikuti sejumlah workshop di dalam dan luar negeri. “Gue seneng bisa ngelakuin sesuatu. Kalau orang bisa ngasih duit, saya bisa melakukan sedikit memberi informasi, itu kayak just feel free aja,” ungkap mantan Ketua OSIS SMU Al Azhar Pusat ini.
Hak Anak
Chandi memperhatikan kecenderungan anak sekarang sangat kritis sekali. Mereka banyak bertanya tentang berbagai hal. “Tetapi apakah orang tua itu siap menerima berbagai ribuan pertanyaan dari anak ? Ada beberapa keluarga yang sudah moderat dalam arti mengajak diskusi dalam pengambilan keputusan misalnya tentang aktivitas liburan dan lain-lain,” ungkap Chandi.
Meski begitu, belum semua orang tua di Indonesia bersikap demikian. Bahkan jangankan memberi, mengetahui hak anak sepenuhnya pun, belum tentu semuanya tahu. “Hak anak itu ada empat, tumbuh kembang, hak hidup, partisipasi dan perlindungan,” kata Chandi. “Dalam hak partisipasi, anak bisa mengemukakan pendapat sekecil mau makan di mana atau planning malam minggu mau ngapain. Atau share itu sendiri, kalau anak sudah siap untuk share, kenapa tidak ?” kata Chandi yang baru saja diterima di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Karena selama ini, menurut Chandi, apa yang diungkapkan oleh anak belum tentu terpikirkan oleh orang tua. “Anak itu murni, apa yang diungkapkan tidak ada kepentingan sama sekali. Tidak ada maksud ingin mendapat jabatan atau duit ingin berapa, dia benar-benar pure dari hati yang paling dalam ketika mengungkapkan sesuatu,” ujar Chandi bersemangat.
Trafficking Anak
Sebagai aktivis dan sukarelawan di beberapa LSM kesejahteraan anak dan kesehatan reproduksi remaja, termasuk UNESCO, Chandi mengetahui fakta-fakta yang belum diketahui banyak orang. Misalnya saja, ketika dia menjadi sukarelawan dalam kegiatan PADU (Pendidikan Anak Usia Dini) yang diselenggarakan Yayasan Kesejahteraan Anak dan Depdiknas di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Di sana, Chandi menemukan fakta bahwa tingkat gizi anak-anak di daerah tersebut masih di bawah garis merah, yang artinya masih kurang. “Padahal sekarang udah 2003 dan Cilincing itu ‘kan engga jauh dari Jakarta,” ujarnya berapi-api.
“Bahkan ada seorang anak yang waktu saya tanya Candi, mau jadi apa ? Dia nyeletuk mau jadi preman,” ujar Chandi sambil menghela nafas. Chandi makin menghela nafas lagi ketika dia menceritakan ada seorang anak yang mau buang air kecil, tetapi ibunya malah membuka celananya dan menyuruhnya kencing di pojok lapangan. “Ini kan menyedihkan banget,” ujarnya.
Ada lagi fakta yang menyedihkan, yakni kondisi child trafficking di Indonesia.
Kasus eksploitasi seksual komersial anak di Indonesia, menurut Chandi berdasarkan penelitian yang dibuat oleh sebuah badan di Amerika, telah sampai pada posisi menengah tingkat keparahannya. Namun, yang paling menyedihkan dari kondisi ini adanya suatu kultur menyuburkan praktek komersialisasi seksual anak ini. “Di suatu wilayah Jawa Barat, seorang anak perempuan dijaga benar-benar agar pada usia 15 tahun dijual ke germo untuk dilacurkan,” ungkap Chandi.
Chandi lalu mengutip sebuah fakta yang tertulis dalam buku “Ketika Anak Tidak Bisa Memilih” terbitan badan PBB, ILO. “Malah kepala desa, lurah, ketua RT/RW mengetahui hal tersebut bahkan punya daftar nama samarannya, alamat kota tempat mereka tinggal, tetapi mereka tidak bertindak apa-apa,” ujar Chandi dengan nada tinggi.
Bahkan agar sang anak jadi ‘laris’, para orang tua di wilayah tersebut tidak segan-segan pergi ke dukun untuk meminta jimat. “Ada satu lampu kuno, kalau lampu itu goyang kencang sekali, dan misalnya anaknya lagi ada di Jakarta, artinya dia harus ke Jakarta karena anaknya dalam bahaya. Sang orang tuanya pun puasa Senin Kamis agar anaknya aman, sejahtera dan laku,” ungkap Chandi lagi.
Chandi mengungkapkan di daerah tersebut terdapat 3 tipe rumah, yakni permanen, semi permanen dan tidak permanen. Yang permanen artinya anaknya sudah melacur dan membangun rumah serta membeli sawah untuk orang tuanya. Sedangkan yang semi permanen artinya baru melacur. Sementara rumah yang tidak permanen artinya si gadis tidak mau melacur atau benar-benar baru melacur.
“Sedih sekali melihat faktĀ ini, karena ada orang tua yang punya anak, justru untuk investasi. Dan engga semua karena faktor ekonomi saja, ekonomi hanya kecil saja, tapi yang berperan juga adalah faktor budaya,” kata Chandi. “Di daerah itu, sekian lama berdiri suatu tradisi. Jadi jika ada orang tua punya anak cantik maka diinvestasikan untuk dilacurkan, semacam untuk balas budi orang tua yang telah membesarkan anak itu,” ujarnya sedih.
Ayah Yang Baik
Chandi terlahir dari orang tua yang sangat demokrat. Ayahnya berasal dari Amerika dan bekerja di bidang IT di sebuah perusahaan swasta, sedangkan ibunya berasal dari Cirebon dengan latar belakang pendidikan psikologi dan kini bekerja di sebuah perusahaan swasta. “Jadi gue ini orang ‘Ambon’, singkatan dari Amerika Ambon,” kata Chandi.
Chandi merasa bersyukur tinggal dalam keluarga yang demokrat. “Orang tua saya demorat sekali, mereka suka nanya ‘dari sini mau ke mana, planning elu apa hari ini’,” ungkap Chandi. Jika Chandi ada masalah, biasanya sang ayah mempercayakan keputusannya kepada anak laki-lakinya tersebut. “Ini kehidupan elo, kita cuma bisa bantu. Keputusan ada di tangan elo. Ini adalah kehidupan elo, elo yang harus berjuang mati-matian,” ujar Chandi sambil menirukan ucapan ayahnya.
Bagi Chandi, keluarga adalah segalanya. “Hubungan keluarga itu harus kuat, karena satu-satunya tempat yang paling aman dan hangat adalah keluarga, family is everything,” ungkap Chandi. Maka tak heran jika keinginan terbesar pemuda berusia 18 tahun ini, selain menjadi Direktur HRD dan pendonor LSM adalah menjadi ayah dan suami yang baik. Woooww.. seandainya ada Chandi-Chandi yang lain, pasti negeri ini menjadi maju, makmur, sejahtera. Who will be the next Chandi ?
http://202.171.26.146/2006/index.php?pg=2&nid=1034&ct=
wah ini maksudnya pamer diri nih….
wekekekkeke
anak sma aja dah gaul bgt
ampun ommmm!!!!!
wawww how lucky u are.. have a great family, have a smaRt thought, have a good wealth, have a beautiful fiancee.. and so on..
ohhh I’m so envy wiff youuuu…hufhufhfuuf.. hope all of d best things for ur upcoming journey..